Abstract
Desa Keniten merupakan wilayah yang terletak di bagian utara Kecamatan Ponorogo dengan mayoritas penduduknya memiliki pekerjaan sebagai petani. Selain padi, salah satu komoditas pertanian yang jumlahnya cukup banyak di daerah ini adalah pisang. Namun buah pisang yang langsung dijual cenderung memiliki harga yang rendah dan tidak dapat disimpan lama setelah dipanen, karena akan cepat sekali mengalami proses pemasakan yang mengarah kepada pembusukan. Untuk itu diperlukan diversifikasi produk melalui olahan pisang seperti keripik. Pada kegiatan ini dilakukan pendampingan menggunakan metode ABCD (Asset Based Community Development) dengan melibatkan partisipasi masyarakat sebagai subyek utama untuk menciptakan suatu perubahan. Langkah pendampingan yang dilakukan dengan masyarakat dimulai dari tahap mempelajari skenario, mengungkap masa lalu (discovery), memimpikan masa depan (dream), merencanakan aksi (design), proses aksi partisipatif (define), hingga monitoring dan evaluasi kegiatan (destiny). Berangkat dari potensi bahan baku yang mudah didapatkan, pengolahan pisang menjadi keripik dengan tambahan inovasi rasa diharapkan bisa menjadi bekal untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas bagi masyarakat, sekaligus memberikan kemampuan berwirausaha guna meningkatkan nilai jual pisang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa usaha pembuatan keripik pisang menguntungkan karena memperoleh nilai R/C ratio 3,4. Tentu saja hal ini masih memerlukan evaluasi dan pendampingan dalam strategi pemasaran secara menyeluruh.
